Aku kembali menoleh ke salah satu halaman benakku yang terbiarkan kosong hampir selama 2 tahun belakangan ini. Hari hari terlewatkan mengulas angka angka komersial yang menurun. Hampir tiga perempat nafasku terlepas ke arah itu.
Terus terang, banyak yang terlewatkan lebih 500 hari terakhir. Tidak terujar dalam bentuk rekam tulis yang biasanya aku lakukan. Untain kejadian di tanah air dan rantau seberang, lewat begitu saja tanpa dapat aku bagi rekam dengan yang lain. Ada perasaan bersalah...
Topik topik hangat yang tidak sempat aku tuturkan seperti kasus kasus dis-amanah oleh pemangku-pemangku amanah di tanar air, gejala "korupsi hati", hingar bingar Facebook dan Blackberry, bahasa asing dan keseharian kita, merantau ke negeri orang, kecenderungan hormat kepada orang yang kita anggap pantas dihormati saja, berpikir besar, rencana rencana besar di awal 40 tahun dan masih banyak lagi...
Entahlah...semoga aku bisa kembali di halaman ini lebih sering lagi.
Pernik Pernik
- Kuliner (2)
- Nalar-Naluri (17)
- Napak Tilas (1)
- Puisi (7)
- Puisi Eliana Ilik (1)
- Puisi Hamdi Buldan (1)
Monday, 27 September 2010
Menulis...Yang Terbengkalai dari Halaman Benak Kita
Posted by
Ridwan Aziz
at
11:55
0
comments
Labels: Puisi
Rindu Seperti Mata Air
Rindu yang memberi
Seperti mata air
Mengisi setiap relung relung kosong di sembarang ruang
Yang mereka bentuk rupa atas rupa
Rindu yang meng-kalbu
Pernahkah engkau merasakan rindu sebegitu syahdu kepada saudaramu?
Rindu yang menyeru,
kembali kepadaNya...
(Subang Jaya, September 2010)
Posted by
Ridwan Aziz
at
11:36
0
comments
Labels: Puisi
Sunday, 14 October 2007
Persis Di Bawah Matahari Jakarta Aku Berjanji
(Juli 1995) - Meminang istri, kini Ibu dari anak-anak kami
---
Dik,
Wangi tubuhmu masih kentara di bajuku hari ini
Karena kita berjalan bersisian tadi pagi
Bicara tentang menanak nasi dan mengajar anak-anak mengaji
Persis di bawah matahari Jakarta yang itu-itu juga
Dik,
Besok hari pagi-pagi sekali
Aku janji temui sang Wali
Kupinang engkau menjadi istri
Tepat sebelum wangi tubuhmu usai hinggap di bajuku hari ini
Posted by
Ridwan Aziz
at
20:05
0
comments
Labels: Puisi
Kepada Ibu-Ibu Yang Baik
(Dengan segenap keprihatinan terhadap apa-apa yang kini terjadi di sini, walaupun sebenarnya itu tidaklah cukup)
Kampus Ganesha 10, 26 November 1992, 00.20WIB
--------
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang telah melahirkan bayi yang bukan apa-apa
Yang sekarang menjadi apa-apa
Tapi hendak diapa-apain orang
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang tidak lagi menyusui anaknya semenjak dua tahun
Yang rela untuk tidak lagi mendekap anaknya
Melainkan membiarkan anaknya kedinginan bila hujan tiba
Melainkan membiarkan anak dua tahunnya sesekali digigit nyamuk
Melainkan membiarkan anak dua tahunnya untuk pernah merasakan gelisah bila meriang
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang rela melepas anak lima tahunnya bermain layangan di halaman
Walaupun cemas bila anak lima tahunnya tertusuk paku, tertabrak mobil, atau sekedar tersandung batu
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang rela untuk tidak lagi membelai-belai rambut anak belasan tahunnya
Melainkan membiarkannya berkeringat dan kecapaian
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang tidak lagi menghidangkan ikan goring dan perkedel daging
Melainkan kue ubi dan sayur lodeh
Dan membiarkan anaknya tahu bahwa itu sama lezatnya
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang tidak lagi mengenalkan anaknya hanya pada orang-orang atas
Melainkan juga pada penjual sayur langganannya
Melainkan membiarkan anaknya bergaul dengan orang-orang di pasar dan kaki lima
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang tidak lagi membiasakan anaknya ke kolam renang
Melainkan membiarkan anaknya menentang arus di sungai
Yang tidak lagi membelikan racing car
Melainkan Cuma mobilan plastik lima ratusan
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang selalu bangun pagi, mencuci dan menyeduh kopi
Yang pandai menisik dan menanak nasi
Yang bertelapak tangan kasar karena deterjennya bukanlah anti-lemak
Sekarang di Kampus ini…
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang tidak pernah menulis rindu pada anaknya dalam surat bulanannya
Melainkan selalu berdoa agar anaknya tidak mati karena rindu
Melainkan berbesar hati ketika anaknya tidak pulang ke kampong tiga lebaran belakang
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang tidak pernah menangis dan tidak pernah akan menangis
Membaca berita Koran sore kemarin yang dibaca sore ini
Bahwa anaknya dipaksa mendekam
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang selalu mengurungkan niatnya
Untuk dating ke kampus ini dan menikmati sendiri suasana Bandung yang basah
Melainkan mengirimkan uangnya
Biar anaknya bisa beli buku dan sesekali nonton bioskop
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang cukup membayangkan indahnya Bougenville merah gerbang kampus hanya lewat surat-surat anaknya
Yang melarang anaknya beli baju terus
Melainkan mengirimkan kain sarung dan baju jahitan sendiri
Buk, apa kabar Bapak dan Adik di Kampung?
Sehat-sehat ya Buk
Buk, sekarang banyak orang memaksa kami menangis
Tapi kami tidak mau
Karena Ibukan tidak pernah menangis
Buk, sekarang banyak orang memaksa kami hanyut dalam siraman airnya
Tapi kami tidak mau
Karena dulunya kamipun tidak hanyut di sungai
Buk, sekarang beras putih dikurangi di Kampus kami
Tapi kami tidak mati
Karena dari dulu kami tahu ubi rebus pun sama enaknya
Buk, sekarang ada saja orang mau menawarkan kata dengan bujukan seribu tujuh mainan mahal
Tapi Buk, bukankah hanya dengan mobil plastik lima ratusan kami sudah bahagia dulunya
Buk, sekarang orang-orang bilang: belajar sajalah, jangan jadi apa-apa
Padahal Buk, pernakah kami lalaikan belajar walaupun setiap hari main layangan ?
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang dari dulu-dulu rela dikritik
Kalau ternyata sayur lodehnya kurang asin
Yang selalu bangga akan kemandirian anaknya
Yang tidak pernah cemas karena banyaknya warna yang dikenal anaknya
Melainkan selalu yakin hanyah merah dan putih hati anaknya
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang tidak pernah menginginkan anaknya kembali bayi
Ataupun dianggap bayi
Yang selalu wanti-wanti untuk menjadi kaum penengah dan tidak pongah
Yang selalu jujur pada dirinya sendiri
Kepada Ibu-Ibu yang baik
Yang sama baiknya
Dengan Ibu-Ibu di ‘08
Dengan Ibu-Ibu di ‘28
Dengan Ibu-Ibu di ‘48
Dengan Ibu-Ibu di ‘66
Kepada Ibu-Ibu yang tidak pernah menangis
Ketika anaknya terborgol dan terpentungi
Yang sama tegarnya:
Dengan Ibu-Ibu di ‘78
Dengan Ibu-Ibu di ‘89
Dengan Ibu-Ibu di ‘92
Akhirnya,
Buk walaupun tubuhmu sudah tua dan bungkuk
Tapi akan tetap bisa merasa tegak
Karena ternyata dada anaknya sampai kini tetap membusung
Buk, sembah sujud ananda!
Posted by
Ridwan Aziz
at
20:01
0
comments
Labels: Puisi
Thursday, 4 October 2007
Sekantung Terung Bulat Bagi Anak Kita
Rapat Komite Sekolah Tentang Kenaikan Iuran Bulanan
Sebuah SD Negeri di Tangerang
=====
Lantas, masih pantaskan kita bersikukuh bila harga
Pendidikan anak-anak kita setara sekantung terung bulat ?
Yang bisa dibeli setengah harga dan ditawar satu dua rupiah saja.
Masih pantaskan kita bersikeras bila harga
Pendidikan anak-anak kita lebih murah dari pulsa-pulsa seluler yang kita hamburkan setiap hari untuk dukung-dukung kontes nyanyi di televisi ?
Relakah kita bila anak-anak belajar soal-soal salah kaprah
Semata karena sang guru hanya sarapan persoalan dengan segelas kopi pahit tawar?
Sedangkan kita dan anak-anak makan nikmat paket empat dua tiga kali seminggu bila sempat
Belum lagi ongkos hisap batang-batang dua tiga empat yang kita habiskan dalam setiap rapat
Yang benar sajalah...
Lalu bagaimana mungkin kita gantungkan harapan kita pada anak-anak
Untuk melukis impian-impian kita di tujuh atau tujuh belas tahun mendatang
Meneruskan paruh-paruh cerita yang belum kita tuntaskan
Bila kita hanya urus perut sendiri ?
Sementara kita bebankan pintarnya anak-anak kita pada mereka,
Sembari selalu menawar kenaikan uang iuran bulanan ?
Dan tertawa senang bila dapat diskon enam ratus perak
Bila kita juga tetap berteguhdiri dengan naifnya kita,
Coba tanyakan apakah kita sanggup berdiri sebagai mereka...
Posted by
Ridwan Aziz
at
12:33
0
comments
Labels: Puisi
Monday, 10 September 2007
PADA SUATU SAAT, KETIKA MEREKA BERTANYA
Dik Bayangkanlah....
Di beranda rumah, pada saat anak-anak bertanya
--------------------------------------------------------------------------
Belitung-4, 13 Agustus 1995
PADA SUATU SAAT, KETIKA MEREKA BERTANYA
Dan ketika mereka bertanya
Tentang Kerinduan yang membara dan tiada usai
Jawablah...
Karena bagi kita rindu telah me-nafas
Seiring raga, tanpa pernah kita sengajakan
Pada akhirnya, mereka juga terus bertanya
Tentang cinta yang penuh dengan rahmi dan tiada lekang
Jawablah...
Karena bagi kita cinta bukan untuk kita semata
Bahkan adalah warisan kita yang paling berharga buat mereka
Akan tetapi,
Bila mereka kembali bertanya
Apatah cinta kita ialah yang terindah ?
Jawablah: Tidak!
Karena sesungguhnya yang terindah adalah cinta sang Khaliq
kepada kita dan mereka
Posted by
Ridwan Aziz
at
13:20
0
comments
Labels: Puisi
Sunday, 9 September 2007
Bukan Sekedar Kami Berteman

Kami telah berteman dalam menjelajahi waktu
Pada paruhan-paruhan yang mesti kami isi ceritanya
Dari malam ke pagi hingga sore dan kembali ke malam
Menyiasati hari dengan jentera-jentera tawa
Karena, bukankah kehidupan adalah keceriaan yang terlengkap ?
Kami berteman selalu berkumpul
Pada sisi-sisi kami yang menyatukan
Juga pada sisi-sisi kami yang hablur namun tersatukan
Membuat kenangan ke sana ke mari
Mengaitkan banyak cerita sesudahnya
Kami berteman tidaklah berkelompok dengan membuta
Karena kami selalu bertambah seiring lintasan mentari
Pada setiap saatnya,
Dari dua menjadi lima, dari lima ke bilangan sembarang
Kami berteman bukanlah untuk membuat hanya satu jalan
Dan mengakuinya hanya milik kami, bukan petemanan yang lain
Melainkan,
Kami berteman membuka jalan
Bagi apa-apa yang akan ada di ujungnya
Kami berteman berawal dari acak
Lantas membiaskan apa yang tersusun rapi daripadanya
Membangun bongkahan rahmi yang terus membesar
Kami berteman bukanlah untuk memilih
Melainkan memilah dalam kebijakan
Seraya saling menasehati
Dalam menetapi kebenaran dan kesabaran
Selalu menjadi penengah
Yang tidak pernah perlu merasa pongah
Barang sedikitpun…
Karenanya,
Sekarang kami berteman
Agarlah lusa hari
Anank-anak kami pun dapat melanjutkannya
Bukan hanya sekedar mengenang !
Posted by
Ridwan Aziz
at
11:07
0
comments
Labels: Puisi