Pages

Friday, 30 May 2008

Sesungguhnya mengapa saya diet: "Zakat Badan"

Beberapa bulan terakhir, saya berhasil menurunkan berat badan dari sekitar 96kg menjadi 73kg dengan mengatur pola makan dan asupan kalori. Banyak rekan-rekan yang bertanya latar belakang kegiatan saya ini. Ada baiknya saya kutipkan di sini beberapa korespondensi saya dengan beragam teman. Semoga bermanfaat:

==

Sebenarnya...resepnya gampang.
Have something simple, basic but strong enough reason to move forward with your plan to loose weigth.Dalam kasusku adalah:

Sudah hampir enam tahun terakhir, aku tidak pernah memakai wedding ring-ku, karena simply nggak muat lagi. Suatu ketika aku melihat dia terongok berdebu.

Dalam rangka mengapresiasi rasa sayang dan cintaku kepada istri, maka aku bertekad untuk bisa memakainya lagi, dan itu artinya harus mengurangi berat badan (agar diameter jari manis berkurang) --- sst...jangan berpikir beli atau punya cinci baru!.

Tentu dibalik itu semua, berat badan yang proporsional dan segala resiko dari overweight menjadi semen-nya.
Dan bergulirlah hari demi hari semenjak awal Desember 2007.
Secara umum, kita makhluk dewasa di Asia membutuhkan sekitar 1800 kalori yang selayaknya dipenuhi oleh asupan makanan kita sehari-hari.

Setiap bahan makanan bisa kita estimasi jumlah kalorinya misal: secangkir kopi manis dengan gula tebu (80 kalori), kopi dengan gula diet (12 kalori), sari roti satu keping 85 kalori, nasi rendang komplit mungkin 550 kalori atau lebih), minyak goreng 1 sendok -- 120 kalori, Apel 80 kalori, 100 gram sayur sekitar 50 kalori...

Jadi kalau mau turun berat badan, saya sarankan konsumsi kira-kira 60-70% dari 1800 kalori. Dan only have full portion of 1800 kalori mungkin seminggu sekali.

Pernah makan taoge tumis 1 kg sekali makan ? Itu saya lakukan sebagai pengganti nasi...enak kok dan bikin kenyang juga.

Jadi intinya bukan mengurangi makan atau tidak makan, tapi mengatur jumlah kalorinya...dan Subhanallah...alam ini kaya dengan variasi bahan makanan.

Sekarang aku sarapan sekitar 350 kalori, makan siang sekitar 500 kalori, makan malam bisa 500 kalori, ngemil masih bisa. Jadi, itu bisa kita lakukan sembari tetap tidak menjadi orang yang "aneh".

Jangan mie instan...itu sebungkus bisa 450 kalori, belum pake telor!

Dan kalo lagi pengen jor-jor an misal ada makan-makan pesta, ada bakso enak... hantam aja...nanti kan bisa skip breakfast atau lunch esok harinya...jadi tetap enjoy man...

Nah...controlled calorie meals ini perlahan-lahan akan menurunkan berat badan kita karena kita defisit. Seperti contohnya negara kita ini dengan kebutuhan listrik atau BBM, selalu defisit.

Lalu lakukan kegiatan juga yang membakar kalori, olah raga, bergerak dan lain-lain. Tapi yang paling banyak membakar kalori adalah:
Mikirin Rakyat!
Lari dari kejaran KPK
Jadi mestinya, para wakil rakyat dan pejabat pemegang amanah rakyat kita itu langsing-langsing, karena harus mikirin rakyat atau kalau berbuat salah bisa lari-lari dikejar...
Ah jadi ngelantur lagi....

====

Nyambung sedikit, nggak tahan untuk ditahan...

Tapi sesungguhnya...sudah berapa lama kita tidak merasakan lapar ?

Indah banget itu rasa lapar...karena kita at that point of time, sadar pentingnya makan, sebagaimana saudara-saudara kita lainnya di Pyong Yang, Rangoon, kota-kota kecil di Sudan, dan tujuh ratus tiga kota lainnya di belahan lain bumi ini.

Jujur, aku rindu rasa lapar itu...makan secukupnya, berhenti sebelum kenyang. Ini sebagian dari akhlak mulia yang diajarkan.

Pejamkan mata sebentar. Bayangkan terakhir kali kita merasakan lapar...dan rasa bahagia sewaktu mendapatkan makanan sesudahnya... (itu mungkin belasan tahun lalu, sewaktu makan indomie telor tengah malam di depan Asrama Vila Merah)

Jadi, bermalam-malam aku terbangun pada tengahnya, di alam kosmik.


Ini cerita serius di balik lahirnya guyonan sambil laluku tentang "Zakat Badan!"


Bagaimana kita bisa bergerak cepat, berlari seperti awan, berjalan begitu cepat seolah menuruni bukit mencontoh Beliau, kalau w=mx g dan F= m x a kita terlalu besar untuk dilawan.


Kita ingin taktis di atas pelana kuda seraya lihai memanah...pastikan bobot kita cukup ringan, dan kuda kitalah yang selayaknya mengkonsumsi lebih banyak kalori dari pada kita. Sehingga kita sebagai suatu kesatuan gerak mampu meningkatkan usaha kita dengan menempuh jarak yang lebih jauh (J = F x s).


Jumlah energi kosmos di alam ini akan tetap sama....kalau kita lebih sedikit mengkonsumsi kalori dengan diet-nya kita...pasti ada lebih banyak orang diluar kita yang memiliki kesempatan mencerap kalori lebih banyak. Ini "Zakat Badan"....


Semoga tidak dianggap aliran baru yang menyesatkan. Sekedar istilah.

Saturday, 3 May 2008

Jangan Jadi sekedar Polisi, Jadilah Polisi Yang Jujur…

Jangan Jadi sekedar Polisi, Jadilah Polisi Yang Jujur
(Lomba Busana Profesi – Peringatan Hari Kartini di SD Negeri Sukasari 4 Tangerang)


Sabtu minggu lalu, bukan sabtu minggu ini, di sekolah anakku SD Negeri Sukasari 4 Tangerang, diadakan peringatan hari Kartini (21 April) sekaligus peringatan hari Pendidikan Nasional (2 Mei).

Tahun ini ada inovasi perlombaan, selain perlombaan pakaian busana daerah dan busana (kebaya) Kartini, juga diadakan perlombaan busana Profesi. Hal yang menarik pikirku, karena anak-anak (sebenarnya juga orang tua) diharapkan mampu mengeksplorasi ragam profesi yang mungkin ada ataupun yang belum ada dan mencoba untuk mencitrakannya lewat pakaian dan aksesories keseharian.

Lumrah saja, bila memang profesi yang paling banyak dicitrakan masih terbatas pada profesi-profesi umum seperti dokter, polisi, perawat, tentara, pilot, pramugari, peragawan/peragawati.

Ada juga citraan profesi yang saya piker cukup kreatif seperti ustadz/ustadzah, wartawan, Namun selebihnya, tidak banyak terobosan lain.

Secara tidak langsung, kita bisa saja mencoba menarik hipotesis bahwa sesungguhnya masih banyak orangtua yang tidak terlalu perduli dengan peluang-peluang profesi bagi anaknya di masa datang, anak mungkin sekedar “lihat saja nanti” yang penting menghasilkan uang.

Sesungguhnya, kita dapat menjelajahi profesi-profesi lain yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari seperti: pengusaha pabrik tahu, pelatih sepakbola, Sekjen PBB, anggota KPK, Arsitek, ahli pembuat kapal laut, peneliti bibit unggul tanaman palawija, guru tari, sutradara film, pembuat kamera untuk film, sopir bus antara kota, pemilik usaha karasori mobil, politikus, computer programmer, istri shalihah dari seorang pejabat atau anggota DPR, pengusaha bakso gerobak dan gerobak bakso, ayah rumah tangga, ibu rumah tangga…

Sewaktu saya diminta untuk memberikan kata sambutan, sebagai wakil dari Komite Sekolah, saya sampaikan kepada anak-anak yang hadir, juga kepada sabahat-sahabat guru dan orangtua, bahwa anak-anak TIDAK BOLEH hanya menjadi dokter, polisi, tentara, pilot dan lain-lain.

“… anak-anakku, kalian tidak boleh jadi dokter, kalau mau jadi dokter jadilah dokter yang jujur, bukan hanya dokter. Tidak boleh menjadi polisi sekedar polisi, jadilah polisi yang jujur, tidak boleh jadi sekedar pilot, tapi jadilah pilot yang jujur, jangan jadi Walikota yang biasa saja, kalau mau jadi Walikota, jadilah walikota yang jujur. Jadilah pemain sepakbola yang jujur, jadilah artis sinetron yang jujur..…”. Rasanya tidaklah terlalu dini untuk menyampaikan hal serupa itu semenjak dini bagi anak-anak SD kita.

Juga, sewaktu mengomentari tentang peringatan “bunda” Kartini, saya benar-benar merasa tersentuh untuk mengenang jasa-jasa bunda-bunda lain yang telah banyak mengajarkan hal-hal penting dalam hidup kita. Ada bunda kita tercinta yang melahirkan dan membesarkan kita, ada bunda Cut Nya Dhien pejuang kemerdekaan hakiki, ada bunda penjual tempe mendoan di dekat rumahku yang berjualan dengan tekun dan jujur untuk membiayai anak-anaknya sekolah.

Di 1400-an tahun yang lalu ada bunda Siti Aminah, yang telah melahirkan dan membesarkan Rasulullah SAW; ada bunda Halimah yang merawat dan menyusui beliau , ada bunda Siti Khadijah yang menjadi tambatan hati Beliau. Di 5000-an tahun yang lalu ada bunda Siti Hajar yang dengan keimanan yang teguh memperjuangkan setetes air bagi anaknya tercinta nabi Allah Ismail A.S. Teriring salam bagi mereka semua, semoga Allah memberikan tempat yang layak bagi mereka, sebagaimana tempat yang layak bagi seluruh bunda-bunda yang baik di muka bumi ini.

Tadi sekitar pukul 13.00, bukanlah kebetulah bila aku berkesempatan menyaksikan sebuah acara sentuhan batin di Metro TV, OASIS, tentang perjuangan seorang bidan di daerah lingkungan pinggiran Cakung-Cilincing, yang dengan kesadaran penuh berkontribusi membantu masyarakat memecahkan peliknya pelayanan kesehatan sebelum dan pasca kelahiran. Beliau merelakan gelang, kalung, cincin untuk membiayai pasien-pasien tidak mampu yang dirawatnya di klinik kecilnya, demi mengusahakan peluang hidup yang lebih baik bagi seorang bayi kecil yang terlahir dari pasangan orangtua yang kurang mampu secara ekonomi.

Maaf, saya sangat terharu, karena bukan kebetulan bila sang bidan tersebut juga bernama Siti Aminah. Saya haturkan salam dan ucapkan terima kasih kepada orangtua dari bidan kita ini, yang mendapatkan kesempatan dari Allah SWT untuk melahirkan seorang bayi perempuan yang telah beliau pilihkan nama yang begitu indah, yang kelak memberikan sinar bagi masyarakat di lingkungannya.

Banyak kisah-kisah bunda-bunda lain yang patut kita contoh...

Friday, 18 January 2008

Penjajahan Gandum! (Makanlah dari yang engkau bisa tanam!)

Salah satu surat kabar nasional (KOMPAS 12/01/2008) menurunkan berita di halaman sebelum halaman belakangnya tentang industri hilir berbasis tepung terigu yang mengalami pukulan hebat selama dua tahu terakhir karena melonjaknya harga gandum sebagai bahan tepung terigu di pasar dunia. Selama tahun 2007, surat kabar ini mengindikasikan, telah terjadi kenaikan harga mencapai lebih dari 100%.

Pasokan gandum dunia menurun sementara tiada gandum yang ditanam di dalam negeri. Selama ini pasokan kebutuhan gandum nasional (sekitar 5 juta ton per tahun) diperolah dari Amerika/Kanada dan Australia.

Saat ini Amerika/Kanada (biasanya memproduksi sekitar 80 juta ton/tahun) mengalami banyak gagal panen karena cuaca yang tidak bersahabat sementara Australia (biasanya memproduksi sekitar 20-30 juta ton/tahun) baru-baru ini mengalami musibah kekeringan hama tanaman. Sebenarnya produsen gandum terbesar dunia adalah Cina (hampir 100 juta ton per tahun), namun nampaknya konsumsi dalam negeri mereka sendiri sangat tinggi hingga sulit untuk menyisakan untuk ekspor.

Industri-industri hilir yang terpengaruh adalah industri-industri makanan berbasiskan terigu seperti roti dan kue, mi instan, biskuit, pasta mengalami masa sulit karena harus menaikkan harga di kala daya beli masyarakat yang kian menurun.

Dari dulu, saya yang bukan pejabat atau staf ahli ataupun intelektual formal ini, sudah sering memikirkan dan menyampaikan, sebaiknya makanlah dari yang engkau bisa tanam. Karena sesungguhnya, kemandirian suatu koloni manusia yang paling dasar adalah bila dia mampu makan tanpa tergantung orang lain!

Kita bukan orang “gandum”. Dari dulu nenek moyang kita bisa tetap eksis karena mereka makan jagung, sagu, singkong, kelapa, pisang, nangka, mangga, talas, umbi bambu, umbi rotan, ubi jalar, kedelai…

Kata-kata terigu (tepung gandum) sendiri merupakan serapan dari bahasa Portugis trigo.

Kalau kita suka roti dan mi misalnya, makanlah roti dan mi dari tepung beras, tapioka, sagu dan lain-lain. Kita punya banyak makanan olahan yang teruji enaknya dan mengandung asupan sari makanan yang sehat seperti pempek, burgo, lumpia, getuk, pepeda. Semua jenis makanan ini menggunakan bahan dasar non gandum.

Percayalah, walaupun memang para pejabat di department pertanian punya banyak teori tentang diversifikasi makanan, tapi tanpa determinasi yang tinggi dari bangsa ini untuk bebas dari ketergantungan bangsa lain, maka selalu kita akan menjadi bangsa yang terjajah. Memang, terlalu bombastis bila saya dengan nakal melontarkan istilah “Penjajahan Gandum”.

Tapi begitulah keadaan kita, kita termasuk bangsa yang tidak perduli tentang apa yang kita makan. Kita terbuai dengan fakta bahwa industri mi instan di tanah air berkembang pesat hingga ke pasar dunia, tapi siapa yang pernah mengingatkan bahwa bahan baku mi instan kebanyakan adalah tepung terigu dari gandum impor.

Kita juga terbuai dengan rayuan konsumerisme. Kalau mau dianggap elit dan terpandang, maka yang dihidangkan dalam jamuan makan kita mestilah roti, keju, mentega, pasta. Bukan getuk, pempek, atau kue dari tepung beras ? Makan singkong selalu diidentikan dengan keadaan bila sudah tidak ada pilihan makanan yang lain….karena singkonglah yang paling mudah didapatkan dan paling mudah ditanam.

Di duniapun, sesungguhnya yang paling banyak ditanam adalah jagung (menghasilkan Maizena), gandum (menghasilkan terigu) di peringkat ke-2, diikuti oleh beras di peringkat ke 3.

Atau bila memang terigu itu lebih enak, lebih menyehatkan dan lebih gampang dibuat makanan enak, mari kita lakukan gerakan nasional menanam gandum! Siapa bilang gandum tidak bisa tumbuh dengan baik dan ekonomis di Indonesia ? Kalau di India (produsen gandum nomor dua di dunia) bisa tumbuh, maka sebegitu juga mestinya di Indonesia. Tentu saja faktor ketinggian lahan, curah hujan dan kelembaban harus diperhatikan. Tetapi bukankan kita punya banyak ahli pertanian untuk menemukan bibit dan cara tanam yang sesuai ? Tidak perlu lagi diceritakan tentang sumber daya petani kita yang terbukti sabar, tekun dan pekerja keras ?

Cina, India, Amerika, Kanada, Autralia, adalah beberapa negara produsen gandum terbesar dunia, sebenarnya bukanlah negara asal tanaman gandum. Para sejarawan mengindikasikan bahwa budidaya tanaman gandum pertamakali berasal dari daerah subur di sekitar sungai Nil, Eufrat dan Tigris, dan barulah sekitar 5000 tahun yang lalu menyebar ke belahan dunia yang lain seperti Ingris raya, Irlandia, India, Spanyol/Portugis, dan Cina.

Cobalah lihat data di table-1: mengapa 10 besar Negara produsen gandum di dominasi oleh Negara yang bukan asal domestikasi tanaman gandum ? Dan gandum dapat tumbuh di sana. Mengapa ? Karena mereka mau menanam! Kenapa mereka menaman ? Karena mereka butuh untuk dimakan!

Karena mereka sadar betul, hanya mau makan dari yang mereka bisa tanam sendiri!

Di Indonesia sendiri, salah satu perusahaan produsen (penggilingan) terigu telah mempelopori proyek-proyek penelitian dan percontohan penanaman gandum. Beberapa lokasi di pulau Jawa (misal Pasuruan) telah ditanami bibitan gandum dari India. Hasilnya cukup menjanjikan bahkan dilaporkan lebih baik dari hasil yang di dapat bila bibit yang sama di tanam di India (3.5 ton per ha disbanding 2.5 ton per ha). Ratusan hektar proyek percontohan tengah berjalan di Pasuruan, dengan target bahwa satu juta hektar tanaman gandum dapat dicapai di Indonesia pada sekitar 2010. Pada saat ini diharapkan hampir semua kebutuhan nasional akan dipasok dari hasil pertanian dalam negeri.

Pasar terigu (membutuhkan gandum sebagai bahan dasar) sedang dibentuk dan dikembangkan lebih lanjut oleh pemilik kapital, karena potensi penduduk Indonesia yang sedemikian besar. Para pelaku pasar mulai dari industri hulu ke hilir, sekarang melihat bahwa perlu dijaminnya pasokan gandum secara ekonomis. Menaman gandum sendiri merupakan antisipasi yang sekarang digarap dari sisi komersial.


Yang perlu dicermati adalah pada saatnya nanti distribusi bibit dan teknologi haruslah sedemikian merakyat, sehingga ajang pasar gandum tidak kembali menjadi ajang mengeruk keuntungan tanpa memperhatikan pemberdayaan petani gandum dan masyarakat. Jangan sampai nantinya, upaya-upaya proyek budidaya gandum yang disponsori oleh industri penggilingan gandum semata-mata bermuatan komersial belaka.

Kembali ke topik awal, selalulah pegang prinsip untuk makan dari yang bisa kita tanam sendiri. Karena sesungguhnya itulah salah satu bentuk kemandirian yang hakiki!



Monday, 7 January 2008

Tentang Minat Baca...

(Awas Membaca Buku Sebentar Lagi Dilarang, Bacalah Sekarang!)

Awal tahun 2008 ini, Gramedia sebuah organisasi rantai panjang dalam penerbitan, percetakan dan penjualan buku di tanah air membuka sebuah kedai lagi di daerah Mampang (Jakarta). Kedai ini diakui sebagai kedai buku terbesar di Asia Tenggara, jadi tidak heran bila SBY juga menyempatkan hadir untuk meresmikan pembukaannya, pada kesempatan yang sama beliau juga meluncurkan buku kompilasi pidato beliau "Indonesia On The Move".

Yang menarik untuk dicermati adalah sebuah visi besar dari kelompok busines Gramedia ini untuk benar-benar menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang gemar membaca. Sejarah panjang dan prestasi kelompok busines Gramedia ini saya kira menjadi tolok ukur yang patut kita apresiasi.

Saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kedai baru ini, mengingat pada saat yang sama diadakan pesta potongan harga sebesar 30% untuk semua produk buku dan stationery kecuali alat elektronik.

Efeknya sungguh luarbiasa, jalan Mampang menjadi macet karena dijadikan lahan parkir. Semua orang bergegas menuju ke gedung Gramedia, yang keluar dari gedung selalu menenteng bungkus plastik umumnya berisi buku. Yang lebih mengesankan lagi, sewaktu saya masuk dan bercampur dengan calon pembeli lain, mereka begitu euforia mengambil berbagai ragam buku di rak!

Aduhai, sebuah pemandangan yang menyejukkan hati...
Saya sendiri meraup beberapa buku majemenen dan psikologi dan bergegas membayar ke kasir, antrian begitu panjang! Tua muda, anak-anak hingga dewasa semua menenteng buku.

Kepada seseorang pegawai pengawas di kasir, saya sempat bercakap-cakap dan memahami bahwa suasana hiruk pikuk ini sudah terjadi semenjak kedai ini resmi dibuka beberapa hari yang lalu. "Menurut Bapak, apakah memang masyarakat kita sudah sedemikian tinggi hasrat membaca-nya Pak ?", tanyaku tergelitik. "Dua-duanya Pak!", jawab sang pegawai. "Maksud saya ini karena memang masyarakat kita sudah gemar membaca dan juga karena diskonnya pak...", lanjutnya penuh semangat. "Nggak penting buku apa Pak, pokoknya beli buku", tiada hentinya sang pegawai menimpali.

Tapi sayangnya memang, pesta ini hanya berlangsung 1 minggu saja. Seandainya masyarakat kita bisa begitu antusiasnya membeli buku, dan juga membacanya, saya kira transformasi budaya kita akan dengan cepat melejit setara dengan bangsa lain di asia tenggara, paling tidak.

Memang banyak pihak prihatin bahwa minat baca bangsa ini masih relatif rendah dibanding negara lain. Walaupun kita sudah punya Hari Buku Nasional -- 17 Mei diperingati setiap tahunnya. Biasanya minat baca yang rendah akan dikaitkan dengan indeks sumber daya manusia yang juga akan rendah, GDP juga akan selaras rendahnya.

Walaupun memang agak susah mendefinisikan secara tegas minat baca itu apa, karena sesungguhnya bangsa ini juga sebenarnya gemar membaca yang lain seperti membaca mantera, membaca nasib dan peruntungan di tahun baru, membaca angka dan lambang di kupon togel. Atau apakah membaca tabloid gosip termasuk kedalam komponen statistik angka minat baca ?

Keberadaan perpustakaan juga masih sangat minim, secara kasar sekitar 300.000 SD hingga SLTA, baru 5% yang memiliki perpustakaan. Bahkan diduga hanya 1% dari 260.000 SD yang mempunyai perpustakaan.
Dan anak-anak juga tidak terbiasa membaca.

Pernakah kita bertanya kepada anak-anak kita apakah mereka sudah baca Koran hari ini ? Atau sudah berapa novel yang dia tamatkan bulan ini ? Paling banter kita suruh anak kita untuk baca buku pelajaran di sekolah, karena itulah yang akan diujikan di sekolah.

Atau bahan bacaan yang kurang mudah didapati ? Mahal ? Tidak menarik isinya. Hmm, bisa saja terjadi. Buktinya banyak anak-anak yang antri beli buku Harry Potter (buku mana saja). Atau jadi ingat bagaimana anak-anak muda begitu bersemangat mencuri baca "buku porno stensilan" ? Jadi, isi yang menarik memang bisa saja menjadi daya pikat tersendiri. Aspek manajemen kampanye pemasaran juga mestinya pegang peranan.

Saya sama sekali tidak kapabel untuk memaparkan ide-ide solusi meningkatkan minat baca, melainkan sekedar memberikan pemikiran-pemikiran terbalik mengenai perspektif lain dari minat baca ini.

PERSPEKTIF LAIN:

  • Minat baca rendah mungkin karena harga buku mahal ? Jadi ingat waktu kuliah, berburu buku-buku terbitan INDIA (Tata McGrawHill). Kertas-nya kertas kacang, tapi isinya kelas dunia!
  • Belanja Buku (atau uang pendaftaran perpustakaan) tidak dimasukkan sebagai kebutuhan primer, cuma "Sandang-Pangan-Papan".
  • Harga buku mahal karena printing machine dan binding machine mahal - mesin import, belum lagi bicara produksi kertas yang terbatas dan harga printing ink dan coating ink yang tergantung nilai tukar mata uang asing ? Tidak ada produsen dalam negeri yang mampu memproduksi mesin cetak ala kadarnya. Rantai distribusi tinta cetak dan harga kertas yang mahal.
  • Selama ini kita hanya berbicara meningkatkan minat baca, tetapi apa kita pernah menyentuh dan prihatin tentang minat MENULIS bangsa ini ? siapa tahu memang kemahiran bangsa ini adalah MENULIS ? Ah...aneh-aneh saja, karena bukankan seorang PENULIS-pun membutuhkan bacaan untuk referensinya.
  • Budaya menulis buku sebagai imbangan membaca buku. Kalau semua buku terjemahan, akan mahal membayar fee penulis dan lain-lain.
  • Minat baca rendah karena membaca buku tidak dilarang maka orang malas membaca buku...coba keluarkan peraturan darurat bahwa membaca buku apa saja di larang di INDONESIA, pasti orang akan berontak dan demonstrasi membaca buku di mana-mana ? Mahasiswa berduyun-duyun datang ke gedung MPR/DPR sambil membawa buku mengadakan aksi 1 juta orang baca buku di jalan tol ? Anak-anak SD berpawai ke kantor Walikota sambil meneriakkan "kami ingin membaca, baca, baca!"

Tuesday, 20 November 2007

Revolusi Bambu...!

Beberapa bulan yang lalu, dalam sebuah penerbangan dari Melbourne ke Denpasar saya berkesempatan berkenalan dengan seorang entrepreneur muda yang kebetulan duduk bersebelahan denganku. Mahasiswa post graduate sebuah universitas di Australia ini benar-benar menjadi “dosen terbang” bagiku, semenjak awal tegur sapa kami di dalam pesawat. Sejak itu, aku mulai banyak mengumpulkan informasi-informasi tentang salah satu “makhluk” ciptaan sang Maha Pencipta ini.

Bambu! Topik pembicaraan yang benar-benar membuka wawasanku tentang potensi lain dari negara kita.

Bambu, tumbuhan hijau dedaunan sirip dengan batang serupa kayu-kayuan termasuk dalam family rerumputan Poaceae, subfamily Bambusoideae, merupakan tumbuhan yang sangat kita akrabi. Tumbuh dimana saja dalam lingkukan daerah beriklim tropis baik di Asia Timur maupun di Asia Tenggara. Bambu, rumput ajaib ini, bisa tumbuh mulai dari tinggi kira-kira 30cm hingga 30 meter.

Sudah semenjak lama, kita memanfaatkan bambu dan segala jenis turunannya untuk bahan bangunan, makanan, obat-obatan ataupun produk-produk kerajinan. Juga janganlah lupakan “bambu runcing” yang konon kabarnya bisa meluncur lebih cepat dari peluru “kumpeni” dalam perang kemerdekaan.

Dari sekitar 1000 species bambu, “dosen terbang”-ku bilang lebih dari 90%-nya bisa ditemukan di Indonesia.

“Bambu itu kuat loh, tensil strenght-nya melebihi tensil strenght baja…”, tandasnya yakin. Kekuatan tarik bambu adalah 28,000 per squre inchi, dibanding 23,000 untuk baja.

Bambu juga dikenal sebagai “the strongest and the fastest growing plant on the planet”. Pertumbuhan batang bambu bisa 3 kali lebih cepat dari pertumbuhan pohon kayu. Bambu sangat mudah tumbuh, dan dalam 3-5 tahun akan beranak pinak memenuhi lahan tanpa diolah, tanpa perlu pestisida, siap untuk dipanen. Bandingkan dengan pohon-pohon kayu yang membutuhkan 10-15 tahun untuk siap tebang.

Vegetasi yang pertama kali bangkit dari kehancuran pemboman Nagasaki dan Hiroshima adalah bambu, yang mampu tumbuh kembali beberapa minggu sesudah pembumihangusan atomik. Ini juga menunjukkan betapa gigihnya bambu mempertahankan kehidupan yang diberikan Allah kepadanya.

Tebang satu, tumbuh seribu begitulah bambu…ini obat anti illegal logging! Selain itu, ini obat anti “global warming” – penyeimbang kadar oksigen/karbon dioksida.

Kegunaan lain-lain…hmm masih ingat Thomas Alva Edison ? Filamen bola lampu pertamakali dia buat dari serat karbon batang bambu.

Bambu juga seharusnya menjadi suatu komponen kritikal dari bangun ekonomi suatu entitas negara. Bambu dan industri-industri terkait dengannya sudah semenjak lama menjadi sumber penghidupan ekonomi bagi masyarakat, bahan pangan dan papan (terakhir juga bahan sandang) bagi sekitar lebih dari 2 milyar penduduk dunia. Biasanya, sudah menjadi anggapan umum bahwa ROI dari sebuah investasi lahan bambu adalah sekitar 3-5 tahun, cukup kompetitif bila dibandingkan misalnya dengan 8-10 ROI dari investari holtikultura. Beberapa negara dengan kandungan cadangan lahan bambu yang besar (sekitar 20,000,000 hektar) seperti China, India, dan Burma telah memulai program-program nasional terpadu untuk pemanfaatan bambu sebagi komoditi komersial.

Beberapa terobosan akhir-akhir ini dibuat oleh negara-negara dengan potensi bambu yang memadai. Bambu sudah menjadi alternatif bahan pembuat “green plastic”. Beberapa dashboard mobil mewah menjadikan topik “green plastic” ini sebagai nilai jual mereka. Konstruksi rumah tinggal dengan bahan bambu anti gempa juga laris manis di Jepang.

Sayur rebung, ketan lamang, lun pia semarang juga merupakan makanan yang bergizi tinggi. Daripada kelaparan mencari beras, mendingan makan rebung bambu! Kalau Panda sangat gemar makan daun bambu, mungkin enak bila dibuat sayur bening.

Di Cina, nampaknya mereka sedang mengembangkan banyak proyek rahasia misalnya mengolah bambu dan turunannya menjadi biofuel (?). Termasuk juga ramuan untuk coating permukaan bambu agar anti lembab dan anti rayap. Kalau untuk serat pakaian, sudah tersedia dipasaran, bahkan produk jadinya sekalipun. Jangan ditinggalkan juga, aplikasi bubur bambu untuk pembuatan kertas. Beberapa kabel pun juga sudah dibuat dengan campuran turunan bambu. Akhirnya, aplikasi di bidang farmasi sudah turun temurun diteliti dan digunakan di Cina.


Sudah saatnya bangsa kita menoleh ke aplikasi bambu. Ayo pelajari bambu, sebab salah satu tumbuhan yang tidak bisa tumbuh di benua Eropa adalah bambu. Jangan-jangan bangsa Eropa dulu menjelajahi lautan hingga ke Nusantara bukan untuk mencari rempah-rempah melainkan mencari bambu (kalau ini cuma guyonan).
Jangan kaget Bung, bila 5 tahun kedepan akan terjadi sebuah revolusi ekonomi – Revolusi Bambu! Sayang kalau itu terjadi di negara lain (negara tirai bambu), bukan di sini (negara bambu runcing).