-- Kelapa Gading, 7/10/2008
(Untuk Generasi Pengungkit)--
Koruptor harus digusur pake traktor
Coba lari tekepor-kepor
Ditangkep KPK cuma pake kolor
Dipenjarapun, kerjanya molor
Koruptor tidak mesti berbadan bongsor
Bisa juga kurus dan tidak menor
Dari mahasiswa ataupun rektor
Peserta seminar hingga moderator
Koruptor bisa menteri bisa legislator
Ataupun intel hingga provokator
Paling pandai bertingkah lagaknya aktor
Naik mobil bisa juga motor
Koruptor itu manipulator
Paling suka disebut donor
Sumbang tabung gas beserta kompor
Bila lebaran, bagi-bagi opor
Koruptor dan keluarga bisa jadi sangat tersohor
Punya nama baik dan gampang tipu bank kreditor
Kalau pulang kampung mesti disambut tanjidor
Diiring tarian dan deretan penjor
Koruptor tidak pernah mau tekor
Selalu punya siasat seperti negosiator
Ajak banyak orang jadi kolaborator
Perlu tidak perlu dia sebarkan teror
Koruptor modalnya kalkulator
Berlagak ibarat mandor
Tekan-tekan tombol persen tentukan biaya setor
Bila kita ingin jadi kontraktor
Koruptor pintar seperti doktor
Nalarnya cepat seperti meteor
Nafkahi keluarga dengan harta kotor
Dari kepala hingga ke ekor
Open the door, Open the door
Suara pintu digedor-gedor
Seperti banteng menyeruduk sang matador
Ribuan koruptor kena lapor
Koruptor demam dan kena tremor
Duduk lemas kaki berselonjor
Tertunduk di depan meja hakim tipikor
Malu dengar percakapan yang tersadap dan termonitor
Koruptor pake jimat anti pelor
Percayalah suatu saat pasti teledor
Mesti tertangkap di spa ataupun elevator
Tinggal tunggu di dor eksekutor
Friday, 7 November 2008
Syair Koruptor Mati di Dor!
Posted by
Nalar dan Naluri
at
08:46
1 comments
Monday, 15 September 2008
Mencari Rahasia Ikhlas Dalam Keseharian Kita
(Dibacakan dalam acara buka puasa Ramadhan, Gerakan Orangtua Peduli Sekolah GOTPS, SDN Sukasari 4 Tangerang, 12/09/2008)
Subhanallah, yang telah menciptakan manusia dengan sebaiknya ciptaan, mampu mendengar, melihat, bertutur dan mengingat.
Aku bukan seorang jurnalis profesional walaupun saya memiliki ketertarikan terhadap tulis menulis yang begitu kental. Bukanpula seorang ahli pujangga. Memang adakalanya aku mencurahkan rasa hati dan isi benakku melalui tulisan, beragam bentuk, puisi ataupun jurnal-jurnal pribadi. Rasanya, menguntai kata-kata tidaklah terlalu sulit, selalu ada hamparan cerita yang bisa dirangkum dari keseharian kita.
Tapi rasanya tidak kali ini. Aku rasakan begitu tegang, metabolisme tubuhku meninggi, hanya kurang dari 5 menit setelah mendapatkan SMS dari Istriku kemarin siang, “ Pa, ada pesan dari teman-teman untuk menulis dan membacakan puisi di acara tausiyah Ramadhan besok, tentang ikhlas Pa....”
“Hmm, menulis tentang ikhlas, Insya Allah, aku ikhlas, “ gumanku dalam hati. “Mungkin bukan puisi tapi artikel singkat saja, “ rekaku. “Tapi, aku harus tulis apa ? Bukankah semua orang tahu tentang ikhlas, apa yang menarik untuk ditulis ya...,” kegelisahan itu mendadak muncul.
Aku kembali melanjutkan kerja rutinku. Namun gejolah fikirku tentang ikhlas, terus menggelora. Sejurus kemudian, resah, “Ah, apakah aku benar-benar paham tentang ikhlas. Apa yang harus aku sampaikan ?”
Ku bolak-balik ingatanku tentang Ikhlas. Mendadak muncul wajah Dedi Mizwar sebagai Haji Romly yang berkata kepada pemuda Fandy, “Engkau kembali lagi untuk melamar anakku, bila sudah tahu rahasia ilmu ikhlas”. Pasti tidak mudah mencari ilmu Ikhlas, toh sinetronya baru selesai setelah puluhan episode, lebih dari dua seri. Tapi, pasti menarik ilmu ikhlas itu, karena toh aku dan keluarga selalu menanti-nanti tayangan sinetron itu tiap sore, 2-3 tahun yang lalu.
Ikhlas menurut arti bahasa: membersihkan atau memurnikan sesuatu dari kotoran. Sedangkan menurut istilah syar’i, ikhlas adalah membersihkan dan memurnikan ibadah dari segala jenis kotoran syirik. Segala tindakan kita, pilihan kita yang dilandasi oleh bisik hati untuk semata-mata karena ridho dan perkenan Allah, adalah keihklasan.
“Ah teori”, celoteh hati kecilku. “Semua orang tahu itu. Lantas dalam kenyataannya apa?”. Mestinya banyak hal terkait dengan ikhlas dalam keseharian kita yang bisa diulas. Aku buntu akal kali ini. “Ah, saatnya melakukan jurus rahasiaku”.
Bertanya dan Mendengarkan! Itu jurus rahasiaku!
Bergegas kutelpon banyak teman, sembari sesekali juga keluar ruangan kerjaku menghampiri beberapa karib di kantor, hingga interview singkat dengan anak-anak di rumah.
“Menurutmu, apa sih Ikhlas itu dalam keseharian kita?”
Kata seorang teman, “ Ihklas itu kalau kita memberikan sesuatu dengan tangan kanan, namun tangan kiri kitapun tidak mengetahuinya.”
Teman yang lain bilang, “Ihklas itu rahasia isi hati kita dengan Allah. Cuma kita dan Allah yang tahu.”
“Katanya, ikhlas itu hanya muncul di hati orang-orang yang dicintai Allah. Dan kita punya peluang yang sama untuk jadi pilihan Allah,” komentar yang lainnya di ujung telpon.
Kolega kerjaku, anak muda yang penuh dengan ide menjawab, “Pak, Ikhlas itu sesuatu yand ada di tataran hati, dan muncul dalam sikap kalau kita bergerak aktif, tidak diam. Ikhlas itu bukan cuma memberi, tapi juga menerima. Semua karena Allah.”
Rekan SMAku yang slengekan, punya komentar nyeleneh, “ Ikhlas itu berbuat kebajikan karena Allah, berulang kali kita lakukan, lalu kita lupakan. Ibaratnya seperti kalau kamu ke Toilet-lah Wan! Kamukan nggak pernah ingat-ingat apa dan berapa banyak yang engkau buang toh...dan lalu kamu lupakan. Tapi sesudah itukan kamu merasa lega !”
Anak bungsuku lain lagi, “Ikhlas itu, kalau Papa kasih uang jajan cuma tiga ribu, tapi aku nggak cemberut!.
Yang sulung berpendapat begini, “Ikhlas itu kalau kita memberi sesuatu dengan sungguh-sunguh, dan nggak pake kata 'tapi' di ujungnya...”
Versi tukang sayur di salah satu komplek perumahan beda lagi, “Ikhlas itu Pak, kalau ada pembeli yang menawar setengah kilo tiga ribu lima ratus, dan saya langsung OK.”
Namun, ada juga yang berkomentar dengan nada meninggi kepadaku, “Apa! Engkau sengaja telpon jauh-jauh hanya untuk tanya tentang Ikhlas, dan parahnya lagi ini untuk buat tulisan yang menarik tentang ikhlas ? Astaghfirullah Ridwan! Kamu jauh panggang dari api! Bagaimana kamu bisa ikhlas kalau semua ini kamu lakukan agar tulisanmu menarik ? Lalu kamu merasa senang mendapat pujian. Sebaliknya kecewa bila tulisanmu membosankan orang-orang ? Jadi, itu bukan karena Allah ! Allah yang punya kekuatan menghunjamkan kata-kata ke dalam kalbu. Bukan kamu...Batalkan! Bila kamu tidak ikhlas!”
Begitu gemuruhnya batinku, mendengar hardikan ringan ini dari seorang kenalan. Ini kritik apa cacian, hal sederhana yang sulit dibedakan dalam kondisi batin yang emosi. Aku kan hanya ingin berbuat baik, tapi kok dituduh-tuduh begitu...Sepantasnyalah aku menjadi kecewa, jengkel dalam situasi ini.
Hening sekian lama....
Astaghfirullahalazim, aku lantunkan istighfar. Teringatlah seorang teman, yang pernah menulis tentang sikapnya terhadap banyaknya kritik yang dia terima sewaktu melakukan kegiatan sosial,” Biarlah kebajikan kecil yang kita lakukan ini, kalaupun itu ada, menjadi pembicaraan malaikat di langit...”
Airmataku menetes perlahan, membasahi helai-helai bulumata.
“Ya, Allah jadikanlah hambamu yang lemah ilmunya ini, selalu dalam cahayamu. Engkaulah nur di atas nur. Engkaulah yang menambahkan ilmu hambanya dan tiada kekuatan yang memberikan pemahaman dengan mudah selain diri-Mu. Biarlah hamba menceritakan rahasia hati hamba hanya kepadamu ya Allah. Rabb pemilik semesta, bahkan bila engkau berkenan, jangan biarkan malaikat-malaikatmu mengetahui rahasia hati hamba kecuali Engkau, agar hamba lepas dari rasa riya, tidak mengharapkan pujian bahkan mereka sekalipun.”
Dan tiba-tiba aku kembali ke titik nol. Kosong. Hampa tapi luas!
Sontak mata lebih basah, ketika tiba-tiba ada rasa rindu yang sangat dalam merebak dalam hatiku. Rindu lebih pekat daripada rindu seorang pemuda kepada kekasihnya. Rindu lebih dahsyat dari rindu orangtua kepada anaknya.
Itulah rindu kepada sosok manusia pilihan Allah, seorang laki-laki berperangai amat mulia yang hadir dalam kehidupan manusia lebih dari 1400 tahun yang lalu. Masa yang sangat lampau tapi menjadi teramat kini karena komitmen syahadat kita, kesaksian kita tiada Rabb selain Allah dan bahwasanya Beliau adalah utusan Allah.
Ya Rasul Allah, Salam 'alaika. Semoga Allah memberikan wasilah dan kedudukan yang mulia bagimu. Selamat dan sejahtera dilimpahkan Allah kepada Dirimu, keluarga dan para Sahabat.
Bukankan engkau, Muhammad Rasullullah SAW, adalah sebaik-baiknya contoh tentang akhlak mulia.
Aku mohon maaf kepadamu yaa kekasih Allah. Bukanlah sosokmu yang muncul pertamakali ketika aku mencari cerita tentang ikhlas, melainkan sosok rekaan Haji Romly dan Pemuda Fandy! Astafghirullah. Bukanlah juga mereka yang salah. Semata-mata karena dhaif, sempitnya ilmu dan rendahnya imanku.
Wahai Nabi Allah, sudah tidak mungkin aku berjumpa denganmu di dunia ini. Andaikan aku hidup di zamanmu wahai Rasul, Aku ingin sekali mencium tangganmu, berlomba-lomba berada di barisan depan bersama pengikut-pengikut awalmu. Akan kubawa serta istri dan anak-anakku, berdiri rapi dibarisan terdepan, Kukenalkan mereka satu-persatu kepadamu dan kukatakan pada mereka, “ini pemimpin kita, yang kita bela dan patuhi, lakukan apa yang beliau contohkan”.
Engkau telah contohkan keikhlasan dan kekuatan bergerak, dalam menyampai wahyu Allah kepada penduduk Mekkah dan Thaif di awal perjuanganmu. Begitu berat tantangan dan cobaan yang engkau hadapi, engkau dikatakan gila, tukang sihir, dilempari dengan batu dan kotoran oleh anak-anak sebaya dengan anak-anak kami, diancam dan dikejar-kejar untuk dibunuh...
Ya Kekasih Allah, tetapi begitu sabarnya engkau menghadapinya, karena keihkhlasanmu yang tiada banding kepada Allah. Ikhlas membuatmu amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, sahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta.
Sangatlah patut bila kami mencontohmu. Bila bukan karena ikhlas dan gigihmu, bisa jadi ajaran tauhid ini tidak sampai kepada kami keluarga kami.
Wahai kekasih Allah, perkenankan aku dan keluarga berada dalam barisan umatmu kelak di padang Masyar, walaupun bisa jadi belumlah cukup kadar keihklasan kami. Izinkan syafaatmu menyentuh kami. Kami sadar, masih banyak penyakit hati yang menghiasi tingkah gerak kami setiap hari, masihlah teramat kotor dengan dengan dengki, dendam, kikir, riya....
Ya Rabb Maha Pengampun, tiadalah kurang yang telah disampaikan oleh Rasulmu, para sahabatNya, dan ulama-ulama sebelum kami. Ampunilah kami, semata-mata semua ini karena lemahnya iman kami, sempitnya ilmu kami.
Rasulullah, yang teramat kurindukan, akhirnya izinkan aku menceritakan ulang salah satu riwayat tentang dirimu dan seorang pengemis Yahudi. Cerita yang Insya Allah bertutur sendiri tentang ikhlas.
--- o0o ---
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah terdapat seorang pengemis Yahudi buta, yang tiap hari apabila ada orang yang mendekatinya , ia selalu berkata "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".
Tetapi setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat.
Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnahpun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.
Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa".
"Bukan !, engkau bukan orang yang biasa menyuapiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut sehingga aku tidak susah untuk mengunyahnya", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a., ia begitu terharu dan tak kuat meneteskan air mata, kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghina dan memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.
---
Begitu mulia akhlak Rasulullah, Mari kita rindukan beliau!
---
Shalawat Badar
Shalatullah Salamullah
Alla Toha Rasullilah
Shalattullah Sallamullah
Alla Yasin Habibillah
Tawassalna Bibismillah
Wabil Hadi Rasulillah
Wakulli Mujahidilillah
Bi Ahlil Badri Ya Allah
Shalatullah Salamullah
Alla Toha Rasullilah
Shalattullah Sallamullah
Alla Yasin Habibillah
Posted by
Nalar dan Naluri
at
15:07
3
comments
Labels: Nalar-Naluri
Monday, 18 August 2008
Mari Bertanya dan Mendengarkan....
Saya membuka-buka kembali korespondensi saya dengan salah seorang rekan yang sekarang menetap di negeri Paman dan Bibi Sam. Kami berdiskusi ringan tentang gerakan Yes, We Can! Moto yang mirip dipakai dalam kampanye calon Presiden di negeri tersebut, sama miripnya dengan moto yang dicanangkan oleh Presiden SBY dalam memaknai hikmah 100 tahun kebangkitan nasional.
Kata kunci yang berlomba-lomba menyeruak dari benakku adalah Bertanya!
Bertanya (to inquiry) bukan menginterogasi (to interrogate) dan keahlian kita bertanya haruslah sama baiknya dengan keahlian kita mendengarkan (to listen)! Keahlian memberikan saran atau arahan (to advocate) haruslah hasil olah lanjutan dari proses bertanya dan mendengarkan tersebut.
Ini kutipan surat elektronik saya kepada sang rekan:
On May 23, 2008, at 12:46 AM, Ridwan_Aziz@cncdesign.com.au wrote:
> He..he...
>
> Kebayang wajahmu Min waktu bilang "Ngak...ngak..."
> Masih ingat puisiku "Permadani di Langit" - tentang petani dan
> keluarganya yang hidup susah dan keluarganya dipanggil satu-per-satu
> menghadap-Nya.
> Potret itu berlangsung hingga kini.
>
> Rasanya dulu, kamu sempat terjemahkan sebagai tugas kursus Englishmu
> ya...
>
> Sekarang di Indonesia Min, pemerintah mencanangkan gerakan "Kita
> Bisa !".
> Padahal yang menurutku lebih manjur adalah gerakan untuk mengakui "Apa
> Yang Tidak Kita Bisa".
>
> Dengan menyusun daftar panjang apa yang belum bisa kita lakukan
> (menjadi
> dokumen negara yang tebal), kita punya kesempatan mengetahui apa yang
> harus kita kerjakan.
>
> Dulu dan sekarang, disekolah dasar kita, anak-anak dididik untuk
> mendapatkan reward kalau dia bisa sesuatu, "Ayo, tunjuk tangan,
> siapa yang
> bisa menyebutkan faktor bilangan 21, Bapak kasih hadiah pinsil...".
>
> Belum banyak guru-guru yang bilang, "Anak-anak, coba tunjuk tangan
> siapa
> yang bisa sebutkan hal-hal yang kalian tidak bisa,
> sebanyak-banyaknya...nanti Bapak traktir Bakso!".
>
> Kita ingin anak-anak kita bisa menulis dan membaca...tapi zat kimia
> pembuat tinta, chemicals untuk proses pulp dan kertas, mesin pembuat
> pinsil dan ballpen termasuk moulding plastik-nya kita belum bisa
> membuat
> sendiri.
>
> Ah..jadi ngelantur.
> Aku kena penyakit "serius" akhir-akhir ini.
>
> Salam buat Uncle Sam...Bibinya di mana ?
>
> Regards,
> Ridwan Aziz
Mata Pelajaran Dasar: Bertanya!
Saya seringkali memperhatikan bagaimana anak-anak kita menerima pendidikan di tingkat dasar hingga tinggi. Mereka dididik dan diajari untuk menekuni profesi tertentu tanpa penekanan lebih pada aspek kemampuan bertanya. Tanpa kemampuan bertanya, saya yakin anak-anak kita akan menjadi terkotak-kotak terperangkap dengan pola pemahamannya sendiri. Tidak peka terhadap bersikap dalam situasi konflik, sehinga terhanyut dalam konflik tersebut tanpa pernah bisa mentransfomasikan konflik kedalam solusi-solusi nyata.
Posted by
Nalar dan Naluri
at
08:30
1 comments
Labels: Nalar-Naluri
Tuesday, 29 July 2008
Tahun Ajaran Baru: Mata Pelajaran Pertama Bagi Kita dan Anak-Anak Kita...
Minggu-minggu terakhir, kebanyakan orang tua disibukkan dengan proses pendaftaran anak-anak mereka di berbagai jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar (SD), tingkat menengah (SMP and SMU) serta tingkat tinggi (Universitas/Institut/Politeknik).
Yakinlah kita, bahwa hampir semua dari orangtua tersebut menginginkan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka dengan harapan kelak memiliki keahlian dan dasar sikap yang kompetitif agar mampu bersaing guna mencari (atau bahkan membuat) lapangan kerja.
Satu hal lagi yang menjadi harapan hakiki dari orang tua adalah agar anak-anak mereka kelak menjadi orang-orang yang shalih dan shalihah, lawan kata dari “orang yang membuat kerusakan dan kerugian bagi orang-orang lain dan ekosistem di luar dirinya”.
Suatu malam hampir di tengahnya, seraya menikmati penganan kecil di depan telivisi selepas hari kerja, saya membaca beberapa coretan-coretan kecil rekan-rekan orangtua yang sampai ke akun email pribadi saya tentang maraknya orang tua yang menjanjikan ataupun memberikan uang tanda terima kasih atas diterimanya anak-anak mereka masuk sekolah-sekolah favorit.
Pikiranku melayang ke 5 tahun silam, di sebuah sore ketika saya dan istri mendiskusikan tempat sekolah yang baik dan terjangkau bagi anak pertama kami. “Ada sekolah SD Negeri favorit, Pa tidak jauh dari tempat tinggal kita, banyak sekali peminatnya,” ujar istriku.
“Wah hebat, apa sebabnya dia bisa menjadi favorit, apa keunikannya ?”, selidikku dengan serius.
“Iya, katanya guru-gurunya sangat kompeten dan juga pendidikan keagamaan di kelola dengan baik sehingga anak-anak tidak hanya cakap dan pandai, namun menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Jam belajarnya pun lebih intensif dan banyak”, lanjut istriku sembari menghidangkan secangkir kopi panas tidak terlalu manis kegemaranku.
“Namun yang daftar banyak hampir 4-5 kali lipat dari daya tampungnya, Pa. Kayaknya akan ada ujian tertulis yang cukup ketat, aku khawatir anak kita bisa jadi tidak lulus..”, kesah istriku sembari menarik kursi mendekatiku.
Aku menyeruput kopi yang menghangat,”Yakin ajalah Ma dengan kemampuan anak kita, kalau dia lulus ujian itu, Alhamdulillah. Kalau nggak, ya Alhamdulillah juga. Kan kita bisa cari sekolah lain yang dia bisa lulus ujian masuknya.”
“Nah Pa di situlah masalahnya yang membuatku khawatir. Aku takutnya kalau anak kita tersingkir dan tergeser karena ada anak-anak lain yang lebih diutamakan karena orangtuanya menitipkan kepada oknum-oknum. Denger-denger sih...kita bisa minta anak kita diutamakan Pa, mungkin harus pakai uang titipan. Gimana menurut Papa...Aku sih tidak mau anak kita tersingkir secara tidak sehat, tapi aku juga pantang melakukan “titipan”. Itukan cita-cita kita untuk selalu berlaku jujur...
Aku rangkul bahunya,”Benar Ma, sudahlah tidak usah khawatir. Berserah diri kepada Allah. Kita kan ingin anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalihah kelak, oleh karena itu kita ingin menyekolahkannya di sekolah-sekolah yang favorit itu. Tapi kalau dari awal, keinginan itu kita nodai dengan “ketidakjujuran”, malu kita sama Allah Ma!”.
“Iya ya Pa, Pasti Allah bilang kita nggak serius...”, ujar istriku.
“Yang penting jujur Ma...asal anak kita bisa baca tulis dan jujur, cukuplah bagi kita. Kalau kita ingin anak kita jadi orang yang jujur, mari kita nafkahi dan biayai dengan mata uang kejujuran”, seruku menuntaskan percakapan kami sore itu. Begitu bersyukur aku mendapatkan pendamping seperti istriku.
Kejujuran: Mata Uang Yang Berlaku Universal dan Tidak Pernah Terdepresiasi Nilainya.
Kejujuran adalah mata uang yang paling berharga. Pernyataan yang menggugah hati ini pertama kali aku dengarkan dari salah seorang rekan di Komite Sekolah SDN Sukasari 4 Tangerang, Jaya Avianto. Aku banyak belajar dari beliau, yang sepantasnya memang menjadi “kakak” bagi kami-kami yang lebih muda dari beliau.
Beliau ungkap itu pada saat acara perpisahan siswa-siswi kelas 6 tahun ajaran yang baru lalu, yang lulus ke sekolah lanjutan. “Anak-anak, pakailah selalu mata uang kejujuran. Kalian bisa belanjakan itu di mana saja, di seluruh dunia...”, tegas Beliau saat itu.
Kejujuran memang suatu kata benda abstrak yang tidak pernah kita pungkiri adalah dasar sikap dari tindakan-tindakan yang kita cita-citakan bagi kita, anak-anak dan cucu-cucu kita kelak. Saya hampir yakin bahwa hampir tidak ada sanggahan untuk ini. Kalaupun kita bertanya kepada seorang koruptor ulung yang belum tertangkap sekalipun tentang apa harapannya kepada anak cucu-nya tentulah dia tanpa rasa sungkan akan mengatakan bahwa ia ingin anak cucunya kelak menjadi orang-orang yang jujur, orang-orang yang baik.
Sangat naif, ketika kita ingin membangun istana kokoh di atas gundukan pasir kebohongan dan ketidakjujuran. Kita harus tetap teguh hati bahwa kebajikan masa depan kita hanyalah bisa dibangun dari sari pati kejujuran.
Terbetik juga beberapa kabar dari rekan-rekan guru di SD negeri anakku bersekolah bahwa nilai-nilai hasil ujian nasional tingkat SD yang berhasil dicapai oleh murid-muridnya sudah bagus tahun ini, namun ternyata masih banyak anak-anak murid dari sekolah lain yang nilanya lebih baik, nyaris sempurna dan maksimal.
Rekan-rekan guru mengatakan bahwa itulah hasil dari anak-anak kita, tanpa direkayasa, tanpa dibantu. Ah bagiku cukuplah pernyataan itu, tidaklah perlu ditarik lebih jauh bahwa anak-anak murid dari sekolah lainnya ditenggarai melakukan kecurangan. Kita tidak tahu dan seyogyanyalah bukan menjadi tempat kita mencurahkan energi untuk menduga-duga. Tidak, jangan tergoda untuk memiliki pikiran seperti itu.
Bagi kita cukuplah mempertanggungjawabkan amanah yang ada di tangan kita. Nilai ujian bukanlah segala sesuatunya. Tidaklah masa depan anak-anak kita ditentukan oleh nilai-nilai mata pelajarannya.
Biarlah mereka menjadi nomor empat, lima atau enam belas sekalipun namun tetap menjadi orang yang jujur dan tidak curang.
Tahun depan, di ujian nasional yang sama, mari kita kembali berlaku jujur, biarkan anak-anak kita meraih masa depannya dengan gemilan, membawa warisan mata uang kejujuran dari kita semua. Saya yakin, barisan orangtua yang mengedapankan warisan kejujuran bagi anaknya makin panjang di belakang rekan-rekan guru yang mulia.
Ibu Bapak guru di SD negeri tempat anakku bersekolah, yuk berhenti bersedih, kitalah pemenangnya!
Posted by
Nalar dan Naluri
at
12:32
0
comments
Friday, 30 May 2008
Sesungguhnya mengapa saya diet: "Zakat Badan"
==
Sebenarnya...resepnya gampang.
Sudah hampir enam tahun terakhir, aku tidak pernah memakai wedding ring-ku, karena simply nggak muat lagi. Suatu ketika aku melihat dia terongok berdebu.
Dalam rangka mengapresiasi rasa sayang dan cintaku kepada istri, maka aku bertekad untuk bisa memakainya lagi, dan itu artinya harus mengurangi berat badan (agar diameter jari manis berkurang) --- sst...jangan berpikir beli atau punya cinci baru!.
Tentu dibalik itu semua, berat badan yang proporsional dan segala resiko dari overweight menjadi semen-nya.
Dan bergulirlah hari demi hari semenjak awal Desember 2007.
Secara umum, kita makhluk dewasa di Asia membutuhkan sekitar 1800 kalori yang selayaknya dipenuhi oleh asupan makanan kita sehari-hari.
Setiap bahan makanan bisa kita estimasi jumlah kalorinya misal: secangkir kopi manis dengan gula tebu (80 kalori), kopi dengan gula diet (12 kalori), sari roti satu keping 85 kalori, nasi rendang komplit mungkin 550 kalori atau lebih), minyak goreng 1 sendok -- 120 kalori, Apel 80 kalori, 100 gram sayur sekitar 50 kalori...
Jadi kalau mau turun berat badan, saya sarankan konsumsi kira-kira 60-70% dari 1800 kalori. Dan only have full portion of 1800 kalori mungkin seminggu sekali.
Pernah makan taoge tumis 1 kg sekali makan ? Itu saya lakukan sebagai pengganti nasi...enak kok dan bikin kenyang juga.
Jadi intinya bukan mengurangi makan atau tidak makan, tapi mengatur jumlah kalorinya...dan Subhanallah...alam ini kaya dengan variasi bahan makanan.
Sekarang aku sarapan sekitar 350 kalori, makan siang sekitar 500 kalori, makan malam bisa 500 kalori, ngemil masih bisa. Jadi, itu bisa kita lakukan sembari tetap tidak menjadi orang yang "aneh".
Jangan mie instan...itu sebungkus bisa 450 kalori, belum pake telor!
Dan kalo lagi pengen jor-jor an misal ada makan-makan pesta, ada bakso enak... hantam aja...nanti kan bisa skip breakfast atau lunch esok harinya...jadi tetap enjoy man...
Nah...controlled calorie meals ini perlahan-lahan akan menurunkan berat badan kita karena kita defisit. Seperti contohnya negara kita ini dengan kebutuhan listrik atau BBM, selalu defisit.
Lalu lakukan kegiatan juga yang membakar kalori, olah raga, bergerak dan lain-lain. Tapi yang paling banyak membakar kalori adalah:
Mikirin Rakyat!
Lari dari kejaran KPK
Jadi mestinya, para wakil rakyat dan pejabat pemegang amanah rakyat kita itu langsing-langsing, karena harus mikirin rakyat atau kalau berbuat salah bisa lari-lari dikejar...
Ah jadi ngelantur lagi....
====
Nyambung sedikit, nggak tahan untuk ditahan...
Tapi sesungguhnya...sudah berapa lama kita tidak merasakan lapar ?
Indah banget itu rasa lapar...karena kita at that point of time, sadar pentingnya makan, sebagaimana saudara-saudara kita lainnya di Pyong Yang, Rangoon, kota-kota kecil di Sudan, dan tujuh ratus tiga kota lainnya di belahan lain bumi ini.
Jujur, aku rindu rasa lapar itu...makan secukupnya, berhenti sebelum kenyang. Ini sebagian dari akhlak mulia yang diajarkan.
Pejamkan mata sebentar. Bayangkan terakhir kali kita merasakan lapar...dan rasa bahagia sewaktu mendapatkan makanan sesudahnya... (itu mungkin belasan tahun lalu, sewaktu makan indomie telor tengah malam di depan Asrama Vila Merah)
Jadi, bermalam-malam aku terbangun pada tengahnya, di alam kosmik.
Ini cerita serius di balik lahirnya guyonan sambil laluku tentang "Zakat Badan!"
Bagaimana kita bisa bergerak cepat, berlari seperti awan, berjalan begitu cepat seolah menuruni bukit mencontoh Beliau, kalau w=mx g dan F= m x a kita terlalu besar untuk dilawan.
Kita ingin taktis di atas pelana kuda seraya lihai memanah...pastikan bobot kita cukup ringan, dan kuda kitalah yang selayaknya mengkonsumsi lebih banyak kalori dari pada kita. Sehingga kita sebagai suatu kesatuan gerak mampu meningkatkan usaha kita dengan menempuh jarak yang lebih jauh (J = F x s).
Jumlah energi kosmos di alam ini akan tetap sama....kalau kita lebih sedikit mengkonsumsi kalori dengan diet-nya kita...pasti ada lebih banyak orang diluar kita yang memiliki kesempatan mencerap kalori lebih banyak. Ini "Zakat Badan"....
Semoga tidak dianggap aliran baru yang menyesatkan. Sekedar istilah.
Posted by
Nalar dan Naluri
at
10:02
0
comments
Labels: Nalar-Naluri
